Kunang – kunang dikenal sebagai makhluk bercahaya dingin karena serangga ini mempunyai kemampuan mengeluarkan cahaya yang dapat terlihat jelas pada malam hari. Sekarang ini jarang sekali menjumpai binatang bercahaya ini apalagi di kota-kota besar. Disini akan dibahas lebih jauh dalam mengenal ciri dari kunang-kunang secara spesifik dengan mengetahui karakteristik kehidupannya.

Photuris lucicrescens merupakan satu dari sekitar 2000 spesies kunang-kunang yang tersebar di daerah tropis di seluruh dunia. Photuris lucicrescens termasuk dalam famili Lampyridae dari ordo Coeloptera. Kunang-kunang merupakan hewan yang tergolong dalam kelas Insecta. Kunang-kunang mempunyai kemampuan menghasilkan cahaya dalam tubuhnya untuk bertahan hidup dan bereproduksi secara efektif di lingkungannya.

Serangga ini termasuk dalam filum Arthropoda. Kunang-kunang merupakan hewan triploblastik selomata, artinya hewan ini sudah memiliki selom atau rongga tubuh yang sebenarnya. Hewan ini tergolong organisme multiseluler, yaitu terdiri atas banyak sel.

Serangga ini sudah mempunyai alat-alat pernapasan, pencernaan, transportasi, maupun ekskresi yang cukup lengkap. Alat pernapasan pada kunang-kunang berupa sistem trakea. Trakea atau tabung udara, berhubungan dengan lubang kecil (stigma / spirakel) yang terdapat pada permukaan tubuh dan berguna untuk keluar masuknya udara pernapasan Alat pencernaannya mulai dari mulut sampai anus, yang terdiri atas mulut, kerongkongan, tembolok, perut otot daging, usus, rektum, dan anus. Alat transportasi pada kunang-kunang ini berupa peredaran darah terbuka, artinya darah tidak selalu beredar pada pembuluh darah. Darah pada kunang-kunang tidak berwarna (jernih) karena tidak mengandung pigmen respirasi baik hemoglobin maupun hemosianin. Sehingga darahnya berfungsi untuk mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas pernapasan. Pada alat ekskresi kunang-kunang ini berupa tabung-tabung halus yang disebut tubulus Malpighi (buluh Malpighi). Cairan tubuh yang mengandung zat-zat metabolisme akan masuk ke dalam buluh tersebut. Sementara di dalam buluh, zat-zat yang masih diperlukan dan air akan dikembalikan ke dalam cairan tubuh. Ekskret terakhir akan dibuang keluar tubuh bersama-sama dengan feses.

Kunang-kunang merupakan serangga yang mampu menghasilkan cahaya dalam tubuhnya. Cahaya pada tubuh kunang-kunang ini berfungsi untuk memberi peringatan tanda bahaya. Ini merupakan salah satu daya tanggap (respon) kunang-kunang terhadap bahaya. Ketika dalam bentuk larva, kunang-kunang ini sudah mampu untuk menghasilkan cahaya dalam tubuhnya sebagai tanda peringatan agar hewan lain yang akan memangsanya untuk tidak mendekat. Karena jika dimakan akan terasa pahit. Hal ini disebabkan oleh zat pemicu pembentukan cahaya pada kunang-kunang yang berasa pahit. Cahaya ini merupakan ‘sinar dingin’ yang tidak meengandung ultraviolet maupun inframerah dan mempunyai panjang gelombang 510 sampai 670 nanometer dengan warna merah pucat, kuning, atau hijau dengan efesiensi sinar sampai 96%.

Jenis kelamin pada kunang-kunang ini merupakan gonokoristik, yaitu jenis kelaminnya sudah terpisah yang berarti ada individu yang betina dan ada individu yang jantan. Reproduksi seksualnya, yaitu oogami dan partenogenesis.

Dalam adaptasinya dengan lingungan, kunang-kunag yang mampu menghasilkan cahaya pada tubuhnya dengan baik dan terang yang akan mempunyai kemungkinan paling besar untuk mampu bertahan hidup dan bereproduksi.

Pada struktur tubuh, seluruh permukaannya tertutup oleh zat kitin yang bersifat kaku dan berguna sebagai kerangka luar tubuh (eksoskeleton). Tubuh pada kunang-kunang merupakan simetri bilateral dan bersegmen, yaitu segmentasi metamerik tetapi hanya pada bagian luarnya saja, tidak sampai pada alat-alat dalam. Larva berbentuk seperti cacing. Tubuh pada kunang-kunang dewasa dapat dibedakan menjadi tiga bagian :

1. Kepala

Pada kepala tersusun dari satu segmen, terdapat :

  1. Mata majemuk (faset) dan mata tunggal (oselus)
  2. Antenna yang berfungsi untuk menerima rangsang bau (reseptor)
  3. Rahang atas (mandibula) dan rahang bawah (maksila), istilah ‘rahang atas’ dan ‘rahang bawah’ hanya berlaku untuk kelompok Arthropoda.

Saraf berupa sistem atau susunan saraf tangga tali yang terdiri atas saraf ganda yang terletak di bawah saluran pencernaan dan berhubungan dengan ganglion otak. Alat indera yang berkembang baik adalah mata dan reseptor pada antena, alat indera lain berupa alat pendengaran (Tympanum). Alat mulut untuk menggigit.

2. Dada

Pada dada tersusun dari tiga segmen. Masing-masing segmen terdapat sepasang kaki, pada segmen kedua dan ketiga terdapat dua pasang sayap. Dua pasang sayap, yang depan tebal dan keras mengandung zat tanduk dan disebut dengan elitra, sedangkan yang belakang tipis.

3. Perut

Pada perut terdiri atas enam sampai sebelas segemen. Pada segmen satu terdapat alat pendengaran (Tympanum).

Pada bagian belakang (posterior) terdapat anus dan khusus pada yang betina terdapat ovipositor yang berguna untuk membantu meletakkan telur – telurnya.

Pergerakan pada kunang – kunang ini dapat dilakukan dengan kaki dan sayap. Kunang – kunang termasuk dalam kelas Insecta. Insecta disebut pula dengan Hexapoda (hewan berkaki enam). Kaki pada kunang – kunang terdapat pada bagian dada di segmen kedua dan ketiga yang terdiri dari dua pasang sayap. Dua pasang sayap, yang depan tebal dan keras mengandung zat tanduk yang disebut elitra,sedangkan yang belakang tipis. Hanya kunang – kunang jantan yang mempunyai sayap, sementara para betina melekat didedaunan dan tanah.

Pada perkembangannya, kunang – kunang merupakan metamorfosis sempurna. Pada masa kawin, kunang – kunang akan saling menarik perhatian pasangan dengan cahaya mereka. Setelah terjadi perkawinan kunang – kunang betina akan bertelur. Kemudian kunang – kunang betina akan meletakkan telur – telurnya di bawah permukaan tanah. Setelah itu, telur – telur tersebut menetas menjadi larva setelah tiga sampai empat minggu dan akan terus diberi makan hingga musim panas berakhir. Setelah kira – kira satu sampai dua minggu dari berakhirnya musim panas, larva tersebut berubah menjadi pupa, kemudian berubah menjadi kunang kunang dewasa.

Semua itu merupakan karakteristik kehidupan pada kunag – kunang. Kunang – kunang merupakan serangga kecil yang memiliki karakteristik kehidupan yang kompleks. Kunang – kunang mempunyai keistimewaan yang masih menyimpan misteri bagi para peniliti maupun ilmuwan hingga saat ini, yaitu sinar dingin yang dihasilkan pada tubuh kunang – kunang bahkan sejak dalam bentuk larva.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s